Artikel



Kemampuan Penalaran Matematis

Oleh: Retno Dwi Putri
Pendidkan Matematika UPI, 2012

Menurut Copi (Suherman, 2012) “Reasoning is a special kind of thinking in which inference takes place, in which conclusions are drawn from premises”. Penalaran adalah jenis khusus berpikir di mana terjadi kesimpulan, di mana kesimpulan diambil dari premis-premis. Sedangkan Keraf (Suherman, 2012) mengemukakan penalaran adalah proses penarikan kesimpulan yang menghubungkan fakta–fakta  atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju suatu kesimpulan.
Shuter dan Pierce (Dahlan, 2004) menyatakan bahwa penalaran (reasoning) adalah suatu proses pencapaian kesimpulan logis berdasarkan fakta dan sumber relevan, pentransformasian yang diberikan dalam urutan tertentu untuk menjangkau kesimpulan. Shadiq (Hidayat, 2014, hlm. 59) menyebutkan bahwa penalaran adalah aktivitas berpikir untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru berdasarkan beberapa pernyataan yang diketahui benar atau dianggap benar yang disebut premis.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah proses bepikir untuk mencapai kesimpulan logis dari suatu masalah berdasarkan fakta dan sumber-sumber yang relevan dan mampu merumuskan langkah-langkah yang sistematis dan terarah untuk mencapai kesimpulan tersebut. Penalaran erat kaitannya dengan matematika. Hal ini sesuai dengan pendapat Depdiknas (2002) yang menyatakan bahwa materi matematika dan penalaran matematis merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar matematika. Dengan demikian untuk dapat memahami matematika dengan baik maka siswa harus memiliki kemampuan penalaran yang baik pula.
Dalam proses pembelajaran sangat penting untuk mengembangkan kemampuan penalaran siswa. Seperti yang diungkapkan Baroody (Yudha, 2015 hlm. 9) penalaran adalah untuk membantu siswa tidak sekedar mengingat fakta, aturan dan prosedur, tetapi lebih tinggi, membantu agar siswa melihat bahwa matematika adalah sesuatu yang logis dan masuk akal, mengembangkan kepercayaan  siswa bahwa matematika dapat dipahami, dipikirkan, dibenarkan dan dievaluasi.
Sumarmo (Yudha, 2015) mengemukakan beberapa indikator kemampuan penalaran matematis dalam pembelajaran matematika, yaitu siswa dapat:
a.       Menarik kesimpulan logis
b.      Memberikan penjelasan dengan menggunakan model, fakta, sifat, dan hubungan.
c.       Memperkirakan jawaban dan proses solusi
d.      Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematis, manrik analogi dan generalisasi
e.       Menyusun dan menguji konjektur.
f.       Memberikan lawan contoh (counter example)
g.      Mengkuti aturan inferensi, memeriksa vaiditas argument.
h.      Menyusun argument valid.
i.        Menyusun pembuktian langsung, pembuktian tak langsung, dan induksi matematis.
Sumarmo (2014, hlm. 6) mengungkapkan penalaran dibagi dalam dua jenis, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif adalah penarikan kesimpulan berdasarkan data yang diamati. Nilai kebenarannya dapat bernilai benar atau salah. Adapun beberapa kegiatan yang tergolong kepada penalaran induktif menurut Sumarmo (2014, hlm. 6) adalah:
1)      Transduktif, proses penarikan kesimpulan dari satu kasus atau sifat khusus yang satu diterapkan pada kasus khusus yang lain.
2)      Analogi, penarikan kesimpulan berdasarkan keseruapaan data atau proses.
3)      Generalisasi, penarikan kesimpulan umum berdasarkan sejumlah data yang teramati
4)      Memperkirakan jawaban, solusi atau kecendrungan baik interpolasi maupun ekstrapolasi
5)      Memberikan penjelasan terhadap model, fakta, sifat, hubungan atau pola yang ada.
6)      Menggunakan pola hubungan untuk menganalisis situasi, dan menyusun konjektur.

Penalaran deduktif merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati. Nilai kebenarannya bersifat mutlak benar atau salah dan tidak keduanya bersama-sama. Beberapa kegiatan yang tergolong kepada penalaran deduktif menurut Sumarmo (2014, hlm. 6) adalah:
1)     Melaksanakan perhitungan berdasarkan aturan atau rumus tertentu
2)     Menarik kesimpulan logis berdasarkan aturan inferensi, memeriksa validitas argument, membuktikan, dan menyususn argument yang valid
3)   Menyusun pembuktian langsung, pembuktian tak langsung, dan pembuktian dengan induksi matematika.

Hurley (Hidayat, 2014, hlm. 59) mengatakan ada dua macam penalaran dalam matematika yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran induktif merupakan proses penarikan kesimpulan yang berdasarkan pada beberapa kemungkinan yang dimunculkan dari premis-premis, sedangkan penalaran deduktif adalah proses penalaran dalam penarikan kesimpulan yang konklusinya diturunkan secara mutlak menurut premis-premis dan tidak dipengaruhi faktor lain. Melalui penalaran siswa diharapkan dapat melihat bahwa matematika merupakan kajian yang masuk akal atau logis, sehingga siswa merasa yakin bahwa matematika dapat dipahami, dipikirkan, dibuktikan serta dievaluasi (Hadi ,2015,  hlm. 17).
Menurut Hamers (Ariany, 2014, hlm. 12) seseorang yang menggunakan penalaran induktif untuk membangun pengetahuan yang koheren akan menyebabkan pengetahuan tersebut lebih mudah diaplikasikan dan lebih meluas, sehingga penalaran induktif ini perlu dimiliki oleh siswa. Penalaran induktif adalah penalaran yang berdasarkan pemangamatan terhadap contoh-contoh terbatas yang teramati.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar